Jumat, 19 Desember 2014

Kota '45

Halo sesisir jejakku disana
Rindukah kau padaku?
Bagaimana keadaanmu disana?
Tetap dinginkah kau seperti awal perjumpaan kita?
Tetap membingunkankah seperti awal perjalananku?

Tak terasa lama tak bertemu indahmu, lama tak menyapa hawamu, lama tak mendecap lezatmu. Entah mengapa daya tarikmu tak bosan-bosan memikatku. Apakah karena seseorang disana ataukah memang dirimu yang selalu ingin kutemui. Entahlah, mungkin keduanya. Banyak tersimpan khayalanku disana. Khayalan yang kini menjadi kenyataan. Perjuangan berat, kesetiakawanan, pengorbanan panjang, segala sesuatunya membuat kerinduanku bertambah.

Secangkir susu penyemangat yang ia buat di atas meja, selembar roti bantal yang akan sirna dalam 2 hari, sampai letupan ayam ikan yang tak pernah mau berenang dalam panasnya minyak, semua menambah romantisme kerinduanku. Bagaimana dengan kabar si merah hitam? pacuan kuda yang selalu kurindukan. Telah banyak ia menemani keseharianku, selalu setia denganku tanpa pernah merajuk. Tapi sayang, kini tak lagi ku jejakkan kaki untuk membuka pagar dalam takutku karena si bony telah pergi. Mungkin ia sudah lelah, lelah dengan tuanya yang lapuk dimakan kesendiriannya.

Semuanya terangkum indah di ujung pulau hunianku sekarang. Kini aku akan menemuimu kembali, menemui semangat hidupku yang dulu pernah berkobar gagah hingga mimpi ini dalam genggamanku sekarang. Mengambil puing-puing asaku dimana aku dan dia memahat mimpi dalam pelukmu. Kubawa berkelana diri ini dalam dirimu yang selalu membuatku teduh. Teduh dan damai. Walau sempat kandas asaku pada dirimu, tapi aku yakin pijakanku sekarang ialah yang terbaik. Terbaik untukku, terbaik untuknya, dan terbaik untukmu.

Mungkin kau bosan melihat tingkah bodohku yang ada dalam dirimu. Memalukan, pikirmu. Tapi aku tak peduli, karena kau tetap tenang dalam malammu, dan tak pernah terik dalam siangmu. Aaah, aku ingin selalu menjangkaumu. Andai engkau dapat ku bawa lari, kan ku kenalkan dirimu dengan pijakanku sekarang. Walau pijakanku terik dalam siangnya dan gerah dalam malamnya, aku tetap menyukainya. Seperti saat pertemuan pertama kita, yang canggung namun erat.

Tunggulah aku disana. Sambutlah aku dengan embun pesonamu. Doakanku dalam dinginmu. Sekali lagi, tak pernah lelah aku menyusurimu lebih dalam dan lebih lekat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar