Kamis, 23 Februari 2017

Sekali Lagi

Sekali saja, ingin kunikmati lagi
Aroma tubuhmu yang mengguncang cakrawalaku
Menikmati indahnya mencintaimu
Iya, hanya sekali lagi
Sekali lagi sebelum aku habis dimakan waktu.
Sekali lagi, sebelum senja menjemputmu
Aku akan tetap disini
Walau kelak hanya ada biasnya
Hatimu akan menuntunmu menemukanku
Mungkin tak akan utuh seperti saat ini
Tapi yakinlah, kau bisa dengan bebas memiliki kepingan itu
Dan disini, dihatiku
Kau akan selalu hidup
Menjadi penuntunku
Menemukan senja, yang akan menjemputku.

Jumat, 06 Januari 2017

Awan yang Berbeda

Aku adalah hitam
Dan kalian si putih
Kita menyusur ruang dalam bayang yang tak terjamah

Hempaskanlah rasa itu, dan raihlah segenggam bahagia
Aku berjalan beriringan, tertunduk dalam resah yang tak terkira
Biarkan sunyi sepi menjadi teman terbaikku
Dan kalian, singgahlah di pelupuk dermaga sana


(26 Desember 2015)

Katamu Kataku

Katamu katamu katamu
Katamu kau berkata
Katamu kata-kata

Katamu katamu katamu
Katamu kuberkata
Katamu ku tak apa

Katamu katamu katamu
Katamu tanda tanya
Katamu ku mencela

Katamu katamu katamu
Katamu ku lah asa
Kataku kau lah sia

(Solo, 7 Januari 2017)

Senin, 26 Desember 2016

Kepada Burung Jingga

Aku terlanjur jatuh pada sebulan rindu

Pada seonggok senyuman dibalik bajumu, malu

Menerpa padanya rasa yang kian berontak

Mengusik senja dengan segala jingganya

Mungkin kau tak paham akan tingkahku

Tapi yang ku tau, aku akan selalu ada

Aku tak meminta kau melalukan yang sama

Karna ku tau kebebasanlah yang kau cinta

Terdorong hasrat untuk bersua

Hanya demi ungkap yang membuat sesak

Tapi beraniku begitu kecut saat bersamamu

Seolah tak perlu ada kata terucap dan semua ‘kan baik baik saja

Demi waktu, janganlah berlalu begitu cepat

Aku masih sangat ingin bersamanya

Dia bagai senja yang selalu ku nanti

Namun, jika ia harus menjelma malam

Akan ku pasrahkan saja pada seonggok bintang

Yang akan menjadikannya tetap indah

Entah senja atau malam dirimu, tetaplah menuai indah dan kagum pada pandangku

Menuju Akhir

Senja kini telah kuraih

Namun tak kuringkuh karna ia masih ingin melihat malam

Namun lama kelamaan aku mulai bosan

Warnanya mulai menghitam, tak seindah dulu

Jingga, kata mereka

Warna yang selalu memadu madamkan hangat

Aku tak bisa berandai kau selalu menjadi jingga

Tapi bisakah sesekali kau kembali seperti itu?

Aku hanyalah siang yang ingin selalu mengunjungimu

Tapi sekarang hujan, kau tak pernah lagi ingin muncul menampakkan diri padaku

Mengantarmu pun percuma, karna kau hanya ingin kehendakmu

Aku hanyalah siang, yang berharap tanpa harapan

Semoga senja bisa sejingga dulu 🌅

Sabtu, 10 Desember 2016

Yang Terlewatkan

Di ujung mata aku menatapmu
Kau tersenyum pada yang bukan aku
Terlalu manis untuk ku jelaskan
Tapi tetap hatiku mekar melihatnya

- Cermin

Sudah ku katakan berulang kali
Dia tak mungkin jadi milikku
Aku hanyalah pengagum dibalik layar
Jauhlah seperti ia yang memberi aksi nyata

Sudah kukatakan juga dia menyukai ia
Tapi kenapa kau tak mau berhenti
Kulitnya yang seputih susu
Atau hatinya yang selembut sutra, ku tanya

- Dia

Kenapa kau tidak pernah berani beradu tatap denganku?
Apa aku seburuk itu?
Kenapa juga kau tidak pernah beradu bincang denganku?
Apa aku setuli itu?

Tidakkah kau mendengar doaku tentangmu?
Pada satu masa saat kau membangkitkanku tanpa menggenggam
Aku mulai berimajinasi tentangmu
Melantunkan lagu lagu seraya memikirkanmu

- Ia

Aku berusaha semampuku untuknya
Tapi aku tau hanya kaulah yang ada dalam angannya
Senyumnya padaku hanyalah karna ia membayangkan itu dirimu
Tapi salahkah aku menyukainya?

Kenapa kau tidak keluar dari balik layar?
Biar kita lihat siapa yang lebih berusaha
Aku muak mendengar namamu dari mulutnya
Kau pikir aku ini tak punya hati?

- Aku

Aku bukanlah pencinta yang hebat
Cukup senyummu padanya ku tahu kau penuh cinta
Aku sudah senang kau mencintai ia yang baik padamu
Biarlah aku tetap dibalik layar mendoakan kebahagiaanmu

Jumat, 14 Oktober 2016

Ada

Ada yang beranjak saat tatap tak lagi terjejak
Saat kata hanyalah sekedar, RASA
Ada yang menunggu saat emosi bersembunyi
Saat senyum mewakili, KATA
Ada yang padam saat waktu merajalela
Saat diam berlabuh lama, HARAPAN
Ada yang tenang saat kabar tak terdengar
Saat sahut tak terjawab, PENCITRAAN
Ada yang jatuh saat egois mulai terungkap
Saat ketiadaan mulai menetap, AIR MATA
Namun, ada yang kokoh saat jiwa mulai goyah
Saat keyakinan mulai terjajah, HATI