Selasa, 15 September 2015

Sang Master

Senyum itu hadir kembali
Kau yang melukisnya
Tiada jenuh kau menyulam kembali keceriaanku
Ku harap kau juga begitu dengannya
Semoga dia orang tepat untukmu

Tapi ingatlah,
Disaat obrolan kita tak bisa pecah seperti sekarang
Tak perlu bersedih karena kau bisa memecahkan obrolan dengannya
Karena aku selalu percaya
Orang baik pasti akan mendapatkan yang terbaik

Walau sekedar obrolan singkat
Tapi aku tau itu segalanya
Sekali lagi terimakasih master :D

(Solo, 2015)

Yang Terpendam


Mungkin lebih tepatnya bukan kecewa.
Hanya kebodohan yang tak sengaja diperlihatkan.
Apa yang aku rasa?

Setidaknya aku lega mampu mengungkap semuanya.
Walau dibalik itu, masih banyak yang lebih menyakitkan.
Ternyata ini tak seindah kepintaran dalam berbohong.

Sajak-sajakku pun mulai layu kini.
Karena tak ada yang bisa kujadikan objek seindah dirimu, seindah dirinya juga.
Aku tak ingin mengusik hatinya terlalu dalam seperti dirimu di singgasana lain.
Diizinkan menari-nari dipermukaannya sajapun itu sudah cukup membahagiakan.

Senin, 14 September 2015

Tawa dalam Canda

Ada yang bilang senyuman itu indah. Ya, aku mengakuinya. Tapi ada kalanya tawa lebih memikat daripada sekedar senyuman. Apalagi tertawa bersama dalam kebahagiaan yang sempat terampas waktu. Waktu itu sangat berharga, masa masa suram kini silir berganti, keceriaanpun juga bergilir menjadi aroma yang entah akan menjadi apa nantinya, yeah, still a mystery. Hidup ini penuh dengan kelucuan yang terbalut dalam hiruk pikuknya suasana yang terjalin. Kadang seseorang begitu cepat mengambil keputusan sehingga saat itu ia merasa dirinya paling benar padahal itu yang menjadi sumber kelucuan bagi yang lainnya, dan mungkin dirinya sendiri dimasa depan. Pasti kalian juga pernah mendengar ini,

"Jangan membuat keputusan ketika sedang emosi, dan jangan membuat janji ketika sedang bahagia."

Yeah, that's so true! Lantas, kapan kita harus membuat keputusan dan janji? Ketika kamu sedang emosi, dan ingin seluruh dunia tahu perasaanmu, maka pertama kali tenanglah. Tahanlah emosimu. Memang susah, susah sekali, akupun mengakuinya. Tapi coba berkata pada dirimu sendiri untuk sabar dan tenang. Setidaknya tunggu hingga kau sadar bahwa amarahmu akan membahayakanmu juga, bahwa marah itu temannya setan, dan bahwa amarahmu dapat mempermalukanmu juga. Diam aja dulu kuncinya. Nah, jika kau sudah menenangkan diri dan masih merasa ingin berteriak dan meluapkan segalanya atau bahkan jika dirimu sendiri belum bisa tenang dan sabar, maka menulislah dan rekamlah. Tulislah apa yang kamu rasakan saat kamu sedang emosi. Pergilah kesuatu tempat dimana kau bisa sendiri, dan tulislah apa yang ingin kau luapkan. Kalau tidak ada kertas dan pena, ketiklah. Ketiklah amarahmu di ponselmu atau laptopmu dan kemudian simpanlah dalam foldermu. Jika menulis dan mengetik terlalu melelahkan bagimu karna kau bingung apa yang ingin ditulis, maka rekamlah. Rekamlah semua caci maki dan carut marutmu itu. Ungkapkan sepuasmu hingga kau bingung dan tak ada lagi yang ingin kau ungkapkan. Setelah kau menulis, mengetik, atau merekam, maka bacalah tulisanmu dan dengarlah rekamanmu berulang kali. 

Karena Kata - Saparadi Djoko Damono

Karena tak dapat kutemukan
Kata yang paling sepi
Kutelantarkan hati sendiri

Karena tak dapat kuucapkan
Kata paling rindu
Kubiarkan hasrat terbelenggu

Karena tak dapat kuungkapkan
Kata yang paling cinta
Kupasrahkan saja dalam doa

Waktuku untuk Menyerah

Cinta tak sehebat itu.
Kali ini ia melemahkanku bersamaan dengan keberanianku.

Ia pernah mampir dihatimu silih berganti. 
Tapi ia mendatangiku sekali, menetap, betah, dan lupa jalan kembali.

Namun kali ini ada yang berbeda.
Ia mulai betah menempati ruang hampamu.
Dan aku?
Entah kenapa aku harus membukakan pintu keluar untuknya.
Bukan.. bukan karena ia merusak ruangku.
Pun juga bukan karena aku ingin mencari penghuni baru.

Aku hanya berpikir, ini waktunya.
Aku pun tak tau kenapa harus sekarang.
Disaat senyuman kita saling merekah, disaat kehangatan membenam diantara senja yang tak pernah ingin kulewatkan.

Itulah cinta.
Ia membingungkan dan tak pernah punya logika.
Kadang perasaanpun tak mampu menerka semua teka tekinya.

Ku harap kau mengerti dengan semua ketidakmengertianku yang harusnya ku mengerti.

(Solo, 2015)