Jumat, 14 Oktober 2016

Ada

Ada yang beranjak saat tatap tak lagi terjejak
Saat kata hanyalah sekedar, RASA
Ada yang menunggu saat emosi bersembunyi
Saat senyum mewakili, KATA
Ada yang padam saat waktu merajalela
Saat diam berlabuh lama, HARAPAN
Ada yang tenang saat kabar tak terdengar
Saat sahut tak terjawab, PENCITRAAN
Ada yang jatuh saat egois mulai terungkap
Saat ketiadaan mulai menetap, AIR MATA
Namun, ada yang kokoh saat jiwa mulai goyah
Saat keyakinan mulai terjajah, HATI

Minggu, 09 Oktober 2016

Siang yang Angkuh

Ini bukan tentangmu melulu
Selalu hadir dan berlagak berkuasa
Sudahlah, kaupun tak abadi
Cahayamu fana bagiku
Bagaimana tidak?
Untuk apa cahayamu mensintesisku hanya dipermukaan
Sedangkan aku butuh penerangan di dalam

Aku ini buta
Jangan kau pura-pura tak tahu itu
Kaulah tersangka!
Jangan lagi mengelak!
Kau memberiku cahaya terlalu banyak
Aku melambung merasa tak akan ada kelam
Memang kau memelukku dengan hangat
Tapi aku lebih suka ringkuk pada embun

Sekarang aku panas
Apa yang hendak kau lakukan?
Hilangkanlah angkuhmu
Sekali saja aku memohon
Dekaplah aku kedalam
Aku tau kau juga bisa mengobati buta
Terangi aku di dalam dan jangan pernah absen
Karena aku, tak sekokoh yang dipandang oleh mata pandamu

Pendamping Sepimu

Aku bingung denganmu
Kau menyuruhku untuk tidak keluar
Sedang kau pergi melanglang buana
Kau menyuruhku untuk tetap di rumah
Sedang kau tak pernah ada
Kau bilang kita jangan putus komunikasi terlalu lama
Sedang kau yang berlama lama memutuskan
Kau bilang ingin seperti anak kecil
Sedang aku tak diijinkan sering manja
Kau inginkan pengertian
Sedang kau jarang perhatian

Dulu waktu untukku selalu ada
Sekarang hampir tak ada
Dulu kau sering membawaku serta
Sekarang menawarkanpun tidak
Dulu apapun bisa jadi bahan pembicaraan
Sekarang obrolan kita sangat terbatas
Dulu kau yang sering mengajakku pergi
Sekarang ajakan darimu yang jarangpun sering batal
Dulu kau bilang punya sedikit teman
Sekarang kau selalu bersama mereka

Dan aku masih bingung
Jadi aku ini siapa?
Kau memintaku untuk menjadi pendampingmu atau pendamping sepimu?
Sepertinya aku telah salah menyimpulkan selama ini
Baiklah jika aku hanya pendamping sepimu
Mari kita berdoa agar kau segera diberikan pendamping terbaik

Gelisah

Tenangkan aku
Bicaralah seolah kau akan tetap disini
Bicaralah seolah kau akan tetap menggandengku
Atau kau bisa bicara bahwa kau ingin pergi sekarang
Aku takut, aku begitu takut...

Perkara Hujan

Pada setiap rintiknya yang jatuh
Tersimpan sejejak kenangan
Terjerat muara yang senang basah
Merangkai piksel piksel masa lalu

Masih ada ukiran perih disana
Pada organ yang paling sensitif
Tertempa kecewa yang paling bahagia
Hanyalah perihal mencintaimu

Kau katakan hujan mencegah pertemuan
Tapi bagaimana jika sebaliknya?
Bukan denganku, barangkali yang lain
Lalu kau terpikat pada mata tegas tak bertuan itu
Hingga aku disini kembali menjadi sisa sisa aroma rumput

Sabtu, 08 Oktober 2016

Dia Hanya Takut

Berpegang pada rapuh asanya
Kau tersenyum memapankan senja
Putihmu, putih dari segala hitam yang ia tahu,
Lebih suci dari polesan monokrom mata saling cinta

Ia tersenyum dalam guratan waspada
Menilik-nilik dari apa yang matanya tangkap
Tak ingin berharap, namun mengaminkan mimpi
Tak ingin memulai, namun menunggu akhir

*
Jinggamu kini telah kokoh dipelupuknya
Analog memori sedupun sudah jarang berkunjung
Jemarimu mulai menabrakkan diri padanya, enggan berdamai
Membuat ia mulai candu menata selisih denganmu 

Sinar dari kelamnya mulai berpijar
Pada sekalian tinta yang kau lukis indah
Dengan raut basah nan manja di bibir mungilnya
Kau bangun mahkota di rumah baginya

*
Tak ada perayaan, tak ada tujuan
Gandenganmu pilar yang tak terjamah
Dia tak lebih dari sekedar cukup
Sedang kau muara yang tak tertampung

Dia takut dalam harapnya
Dia ragu dalam jalannya
Tak pernah kepercayaan memberontaknya lebih keras
Dia ingin berhenti berkhayal
Sekali lagi...
Seperti waktu dulu
Waktu ia mulai percaya tanpa takut
Waktu badai mengokohkan mimpinya
Waktu ufuk selalu di perdaduannya
Tapi kemudian ia mati binasa dalam kolong keramaian
Hanya waktu api melirik dingin dan sepi

Sekali lagi...
Ia ingin berhenti pada mimpi..
Sebelum ia tak sanggup dipadamkan asa

Senin, 03 Oktober 2016

Hari-hari Semakin Berat

Hari-hari semakin berat
Bahkan untuk mengangkat helmpun terasa berat
Kupaksakan selalu untuk tidak memanjakan malas
Tapi semakin hari semakin berat
Memang beratkah atau aku yang melemah?
Aku hanya bisa menduga duga

Hari-hari semakin berat
Bahkan untuk mengangkat kepalapun terasa berat
Kupaksakan selalu kakiku untuk menumpu
Tapi semakin hari bertambah berat
Apa yang salah dengan mereka? Ataukah aku?
Aku hanya bisa meraba raba

Hari-hari semakin berat
Bahkan untuk diampun terasa berat
Kupaksakan selalu otak untuk tetap terjaga
Tapi semakin hari kian memberat
Lumpuhkah aku? Atau hati yang sedang mati?
Aku hanya bisa menerka nerka

Dulu Begini, Sekarang Begitoe

Dulu begini, sekarang begitoe..
Ada yang merekah, ada yang memudar

Dulu begini, sekarang begitoe..
Ada yang menetap, ada yang pergi

Dulu begini, sekarang begitoe..
Ada yang mencari, ada yang bersembunyi

Dulu begini, sekarang begitoe..
Ada yang penuh, ada yang sunyi

Dulu begini, sekarang begitoe..
Nanti mau bagaimana?

Berkata pada Kata

Akhir-akhir ini kata selalu memenuhi pikiranku
Sehingga aku jarang berkata-kata
Entahlah, aku mulai enggan banyak berkata
Toh, tak ada yang pernah benar-benar mendengarkan bukan?
Setidaknya, dalam tulisan yang bisu, ia masih tetap hidup
Dalam tulisan, ia tampak lebih bermakna

Aku bukanlah si pandai perangkainya
Aku tak harap apapun selain membebaskannya, membebaskanku
Tapi kadang, ia bermain begitu liar hingga tak sanggup ku jinakkan
Aku tak pernah ingin merantainya
Seliar apapun, seganas apapun, ia tetap punya penawar
Yang tak kumengerti, terkadang ia merantai dirinya sendiri
Malu bergaul dengan yang bernama nama
Ia belum diciptakan, tapi selalu ingin lahir

Perkara ia dalam pikiran yang berhijrah menjadi nyata
Selalu ingin kusisipkan elok didalamnya
Bukan untuk menoreh apresiasi bagi perangkainya
Hanya saja agar ia dapat dinikmati, bukan sekedar dilirik
Terkadang aku begitu bingung ketika mereka mulai berkelahi
Mencoba meraih kemenangan atas nama yang mereka punya
Dan akhirnya aku berkata kepada kata, "tiada kata yang sempurna"

Minggu, 02 Oktober 2016

Pencecak, Dinding, Katanya

Pagi ini dingin sudah ingin bermain denganku
Hah, tetapi tetap saja aku enggan
Aku hanya ingin menikmati pagi dengan hangat
Dengan seonggok sarapan yang saling menggodaku
Jangan kau bayangkan itu semua
Itu hanyalah fatamorgana imajinasiku

Kenyataannya, aku masih setia dengan malasku
Hanya jariku yang tak sudi dengan itu
Ia  mulai lincah menelusuri apapun dalam ponsel
Setiap pagi selalu seperti itu
Jika kau tanya alasannya
Mungkin kau bisa bertanya pada dirimu sendiri, kawan

Jariku berhenti ketika mataku memberi aba-aba
Ia melihat sesuatu yang tak asing di sebuah dinding, katanya, yang asing
Hey! Aku ingat! Itu bulir bulir kalimatku!
Mengapa ada disana?
Apa sang pemilik dinding tertarik?
Mengapa tidak izin?
Hish, batinku geram

Aku tidak peduli siapa pemilik dinding itu
Hanya saja dulu terdengar kabar ia seorang penulis
Tak sebandinglah denganku ini dan remahan kata-kata usangku
Aku juga tak punya dendam kepadanya
Hanya saja aku tak menyangka
Bagaimana penulis sepertinya, yang katanya lagi, membantu menulis novel terjemahan di luar sana, dapat bertindak serong seperti itu
Wow!! Warbyasah!
Tapi sayangnya, aku tak mudah percaya dengan "katanya"
Bahkan walau aku tak mendengar, tak melihat, itu cuma kehanyaan bukan?
Aku tak bego', setidaknya tidak untuk beberapa saat

Jadi, apabila kau membaca tulisanku wahai pemilik dinding indah
Ku beritahu kau satu hal
Biasakanlah izin sebelum meminta agar kau tidak tebilangkan pencecak
Lagipun, kau punya banyak taman kata yang subur
Tidak perlulah mengambil dariku yang tandus
Aku tidak ingin memulai pertengkaran dingin
Cukuplah kau mengerti dan tau apa yang harus kau lakukan segera

Sipu-Sipu

Pelukanmu selalu melesat sipu dalam aku.
Dan aku tergelitik saat ragu juga sedikit menghampirimu.
Lalu canggung tak ayal ingin berteman dengan keduanya.
Tapi yang selalu kurasa, pelukmu bagai payung, meneduhkan.

Senjaku Malam

Malam harus tetap datang
Agar senja selalu terlihat indah
Bukankah begitu semestinya?

Lalu mengapa kau banyak mengeluh?
Bukankah kau ingin menjadi bagian dari senja itu?