Aku terlanjur jatuh pada sebulan rindu
Pada seonggok senyuman dibalik bajumu, malu
Menerpa padanya rasa yang kian berontak
Mengusik senja dengan segala jingganya
Mungkin kau tak paham akan tingkahku
Tapi yang ku tau, aku akan selalu ada
Aku tak meminta kau melalukan yang sama
Karna ku tau kebebasanlah yang kau cinta
Terdorong hasrat untuk bersua
Hanya demi ungkap yang membuat sesak
Tapi beraniku begitu kecut saat bersamamu
Seolah tak perlu ada kata terucap dan semua ‘kan baik baik saja
Demi waktu, janganlah berlalu begitu cepat
Aku masih sangat ingin bersamanya
Dia bagai senja yang selalu ku nanti
Namun, jika ia harus menjelma malam
Akan ku pasrahkan saja pada seonggok bintang
Yang akan menjadikannya tetap indah
Entah senja atau malam dirimu, tetaplah menuai indah dan kagum pada pandangku
Senin, 26 Desember 2016
Menuju Akhir
Senja kini telah kuraih
Namun tak kuringkuh karna ia masih ingin melihat malam
Namun lama kelamaan aku mulai bosan
Warnanya mulai menghitam, tak seindah dulu
Jingga, kata mereka
Warna yang selalu memadu madamkan hangat
Aku tak bisa berandai kau selalu menjadi jingga
Tapi bisakah sesekali kau kembali seperti itu?
Aku hanyalah siang yang ingin selalu mengunjungimu
Tapi sekarang hujan, kau tak pernah lagi ingin muncul menampakkan diri padaku
Mengantarmu pun percuma, karna kau hanya ingin kehendakmu
Aku hanyalah siang, yang berharap tanpa harapan
Semoga senja bisa sejingga dulu 🌅
Sabtu, 10 Desember 2016
Yang Terlewatkan
Di ujung mata aku menatapmu
Kau tersenyum pada yang bukan aku
Terlalu manis untuk ku jelaskan
Tapi tetap hatiku mekar melihatnya
- Cermin
Sudah ku katakan berulang kali
Dia tak mungkin jadi milikku
Aku hanyalah pengagum dibalik layar
Jauhlah seperti ia yang memberi aksi nyata
Sudah kukatakan juga dia menyukai ia
Tapi kenapa kau tak mau berhenti
Kulitnya yang seputih susu
Atau hatinya yang selembut sutra, ku tanya
- Dia
Kenapa kau tidak pernah berani beradu tatap denganku?
Apa aku seburuk itu?
Kenapa juga kau tidak pernah beradu bincang denganku?
Apa aku setuli itu?
Tidakkah kau mendengar doaku tentangmu?
Pada satu masa saat kau membangkitkanku tanpa menggenggam
Aku mulai berimajinasi tentangmu
Melantunkan lagu lagu seraya memikirkanmu
- Ia
Aku berusaha semampuku untuknya
Tapi aku tau hanya kaulah yang ada dalam angannya
Senyumnya padaku hanyalah karna ia membayangkan itu dirimu
Tapi salahkah aku menyukainya?
Kenapa kau tidak keluar dari balik layar?
Biar kita lihat siapa yang lebih berusaha
Aku muak mendengar namamu dari mulutnya
Kau pikir aku ini tak punya hati?
- Aku
Aku bukanlah pencinta yang hebat
Cukup senyummu padanya ku tahu kau penuh cinta
Aku sudah senang kau mencintai ia yang baik padamu
Biarlah aku tetap dibalik layar mendoakan kebahagiaanmu
Kau tersenyum pada yang bukan aku
Terlalu manis untuk ku jelaskan
Tapi tetap hatiku mekar melihatnya
- Cermin
Sudah ku katakan berulang kali
Dia tak mungkin jadi milikku
Aku hanyalah pengagum dibalik layar
Jauhlah seperti ia yang memberi aksi nyata
Sudah kukatakan juga dia menyukai ia
Tapi kenapa kau tak mau berhenti
Kulitnya yang seputih susu
Atau hatinya yang selembut sutra, ku tanya
- Dia
Kenapa kau tidak pernah berani beradu tatap denganku?
Apa aku seburuk itu?
Kenapa juga kau tidak pernah beradu bincang denganku?
Apa aku setuli itu?
Tidakkah kau mendengar doaku tentangmu?
Pada satu masa saat kau membangkitkanku tanpa menggenggam
Aku mulai berimajinasi tentangmu
Melantunkan lagu lagu seraya memikirkanmu
- Ia
Aku berusaha semampuku untuknya
Tapi aku tau hanya kaulah yang ada dalam angannya
Senyumnya padaku hanyalah karna ia membayangkan itu dirimu
Tapi salahkah aku menyukainya?
Kenapa kau tidak keluar dari balik layar?
Biar kita lihat siapa yang lebih berusaha
Aku muak mendengar namamu dari mulutnya
Kau pikir aku ini tak punya hati?
- Aku
Aku bukanlah pencinta yang hebat
Cukup senyummu padanya ku tahu kau penuh cinta
Aku sudah senang kau mencintai ia yang baik padamu
Biarlah aku tetap dibalik layar mendoakan kebahagiaanmu
Langganan:
Komentar (Atom)