Sabtu, 26 Desember 2015

Bayang-Bayang Dosa

Udah cukup lama ya ternyata aku ga ngeposting sesuatu. Bukan karna bingung mau ngeposting apaan sih, cuman mager ngetiknya aja hha. 

Yaudah, ini ada puisi Islami yang aku buat kelas 3 SMA dalam rangka lomba Gaung Ramadhan Smansa (GRS) 2011 tingkat Kota Batam. Alhamdulillah puisi ini mengantarkanku pada piala juara ke-2. Ga nyangka banget, soalnya aku bikin puisi ini dadakan banget dan ini lomba cipta puisi pertama yang aku ikutin.

Selamat membaca...

Selasa, 15 September 2015

Sang Master

Senyum itu hadir kembali
Kau yang melukisnya
Tiada jenuh kau menyulam kembali keceriaanku
Ku harap kau juga begitu dengannya
Semoga dia orang tepat untukmu

Tapi ingatlah,
Disaat obrolan kita tak bisa pecah seperti sekarang
Tak perlu bersedih karena kau bisa memecahkan obrolan dengannya
Karena aku selalu percaya
Orang baik pasti akan mendapatkan yang terbaik

Walau sekedar obrolan singkat
Tapi aku tau itu segalanya
Sekali lagi terimakasih master :D

(Solo, 2015)

Yang Terpendam


Mungkin lebih tepatnya bukan kecewa.
Hanya kebodohan yang tak sengaja diperlihatkan.
Apa yang aku rasa?

Setidaknya aku lega mampu mengungkap semuanya.
Walau dibalik itu, masih banyak yang lebih menyakitkan.
Ternyata ini tak seindah kepintaran dalam berbohong.

Sajak-sajakku pun mulai layu kini.
Karena tak ada yang bisa kujadikan objek seindah dirimu, seindah dirinya juga.
Aku tak ingin mengusik hatinya terlalu dalam seperti dirimu di singgasana lain.
Diizinkan menari-nari dipermukaannya sajapun itu sudah cukup membahagiakan.

Senin, 14 September 2015

Tawa dalam Canda

Ada yang bilang senyuman itu indah. Ya, aku mengakuinya. Tapi ada kalanya tawa lebih memikat daripada sekedar senyuman. Apalagi tertawa bersama dalam kebahagiaan yang sempat terampas waktu. Waktu itu sangat berharga, masa masa suram kini silir berganti, keceriaanpun juga bergilir menjadi aroma yang entah akan menjadi apa nantinya, yeah, still a mystery. Hidup ini penuh dengan kelucuan yang terbalut dalam hiruk pikuknya suasana yang terjalin. Kadang seseorang begitu cepat mengambil keputusan sehingga saat itu ia merasa dirinya paling benar padahal itu yang menjadi sumber kelucuan bagi yang lainnya, dan mungkin dirinya sendiri dimasa depan. Pasti kalian juga pernah mendengar ini,

"Jangan membuat keputusan ketika sedang emosi, dan jangan membuat janji ketika sedang bahagia."

Yeah, that's so true! Lantas, kapan kita harus membuat keputusan dan janji? Ketika kamu sedang emosi, dan ingin seluruh dunia tahu perasaanmu, maka pertama kali tenanglah. Tahanlah emosimu. Memang susah, susah sekali, akupun mengakuinya. Tapi coba berkata pada dirimu sendiri untuk sabar dan tenang. Setidaknya tunggu hingga kau sadar bahwa amarahmu akan membahayakanmu juga, bahwa marah itu temannya setan, dan bahwa amarahmu dapat mempermalukanmu juga. Diam aja dulu kuncinya. Nah, jika kau sudah menenangkan diri dan masih merasa ingin berteriak dan meluapkan segalanya atau bahkan jika dirimu sendiri belum bisa tenang dan sabar, maka menulislah dan rekamlah. Tulislah apa yang kamu rasakan saat kamu sedang emosi. Pergilah kesuatu tempat dimana kau bisa sendiri, dan tulislah apa yang ingin kau luapkan. Kalau tidak ada kertas dan pena, ketiklah. Ketiklah amarahmu di ponselmu atau laptopmu dan kemudian simpanlah dalam foldermu. Jika menulis dan mengetik terlalu melelahkan bagimu karna kau bingung apa yang ingin ditulis, maka rekamlah. Rekamlah semua caci maki dan carut marutmu itu. Ungkapkan sepuasmu hingga kau bingung dan tak ada lagi yang ingin kau ungkapkan. Setelah kau menulis, mengetik, atau merekam, maka bacalah tulisanmu dan dengarlah rekamanmu berulang kali. 

Karena Kata - Saparadi Djoko Damono

Karena tak dapat kutemukan
Kata yang paling sepi
Kutelantarkan hati sendiri

Karena tak dapat kuucapkan
Kata paling rindu
Kubiarkan hasrat terbelenggu

Karena tak dapat kuungkapkan
Kata yang paling cinta
Kupasrahkan saja dalam doa

Waktuku untuk Menyerah

Cinta tak sehebat itu.
Kali ini ia melemahkanku bersamaan dengan keberanianku.

Ia pernah mampir dihatimu silih berganti. 
Tapi ia mendatangiku sekali, menetap, betah, dan lupa jalan kembali.

Namun kali ini ada yang berbeda.
Ia mulai betah menempati ruang hampamu.
Dan aku?
Entah kenapa aku harus membukakan pintu keluar untuknya.
Bukan.. bukan karena ia merusak ruangku.
Pun juga bukan karena aku ingin mencari penghuni baru.

Aku hanya berpikir, ini waktunya.
Aku pun tak tau kenapa harus sekarang.
Disaat senyuman kita saling merekah, disaat kehangatan membenam diantara senja yang tak pernah ingin kulewatkan.

Itulah cinta.
Ia membingungkan dan tak pernah punya logika.
Kadang perasaanpun tak mampu menerka semua teka tekinya.

Ku harap kau mengerti dengan semua ketidakmengertianku yang harusnya ku mengerti.

(Solo, 2015)

Minggu, 11 Januari 2015

Each Other

Did you know without two hands on a clock, you can never know the time
Did you know without two points, you have no line
Did you know without at least two words, there can never be rhyme
Without you, there's no we, don't you see?

You can never know the good, if you didn't know the bad
You can never know the joke, if you never been in sad
And peace feels so much worth, after the wars in fact
I think I finally understand

Cause the sun need the moon
And the words need a tone
And the grass and the trees need rain
Like sea need the waves
When you feeling restless
You need a safe place

Selasa, 06 Januari 2015

Selamat Malam, Perbedaan

Malam, tuntunlah aku dalam heningmu, agar aku bisa berpikir jernih tanpa ada gaduh yang menyaut-nyaut merisaukanku. Malam, tapi jangan tuntun aku dalam kelammu, karena aku sudah buta dengan teka-teki depanku nanti. Malam, tuntunlah aku pada bintang, yang kecil namun cahayanya abadi menemani bumi hingga bumi ini dipanggil. Biarlah aku belajar darinya, hingga aku dapat menerangi semua yang ada disekitarku. Malam, mungkin aku masih seperti bulan, yang sering bersembunyi, enggan memberikan cahayanya. Tapi yakinlah, aku tak sekejam itu sesungguhnya. Aku bersembunyi, enggan menampakkan diri, hanya untuk melihat sepasang mata mata mendelik senyum karena gelapku.

Malam, kau tau, aku takut akan gelapmu. Aku ingin selalu bersembunyi di celah-celah cahaya sempit hanya agar aku merasa aman. Tapi, sayangnya aku tak bisa seperti itu. Aku ingin terus berjalan dalam gelapmu supaya bisa menemukan cahaya utuh yang dapat menyinari seluruh tubuhku, bukan hanya mata atau telinga ini. Terkadang, cahaya yang hanya sampai di mata ini, dibiaskan begitu dalam hingga aku merasa perih, menutup mata, tak sanggup melihat atau bahkan melihat hal yang sebenarnya tidak pernah ada. Terkadang juga, cahaya yang hanya mengenai telinga ini juga membuat panas dan berdenging sehingga aku tak dapat mendengar atau mendengar kata-kata yang sebenarnya tak pernah diucapkan.

Kamis, 01 Januari 2015

Be Better, Be The Best!

Aloha! Happy new year buat kita semua!
Mungkin telat banget ngeposting ini di jam segini, tapi yaa apa boleh buat, namanya juga pas lagi pengen nulis. Well, di tahun yang baru ini, semuanya menjadi awal yang lebih baik buat kita semua.

Sebenernya banyak yang mau aku ceritain tentang tahun 2014 kemarin. Tapi, berhubung aku kurang pinter merangkai kata, jadinya maapkeun yak kalo tulisanku kali ini terdengar membosankan whahaha.

Cerita tentang 2014 sih yang pastinya banyak banget pengalaman baru yang belum pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Baik itu pengalaman baik ataupun buruk. Baik kejutan ataupun ujian. Seseorang pernah berkata kepadaku,

"Hal buruk yang menimpa kita itu bukanlah cobaan, melainkan ujian. Kalo kita anggap itu sebagai cobaan, berarti kita udah merasa suci dari dosa, sedangkan dalam satu hari aja masih ada dosa-dosa yang kita lakuin. Anggaplah itu sebagai ujian. Allah menguji kita berarti Allah masih memberi kita kesempatan untuk lebih dekat denganNya.."