Jumat, 18 Maret 2016

Tentang Kita

Tentang kita yang hanya sebatas wajar
Di ingkarkan cerita cinta oleh mereka
Tak sanggup bersua untuk membela
Walau hati meronta akan faktanya

            Tentang kita yang hanya akan menjadi hujan
            Tak diberikan terik oleh mereka tuk datangkan pelangi
            Karena gemuruhlah kepantasan untuk kita, katanya
            Walau hasrat menyeru kasih dalam belenggunya

Tentang kita yang slalu dalam cemoohan
Tak dibiarkannya terselip sedikit indah
Dan cacat kitalah anugerah baginya
Walau cahaya tlah kita sinari tiap saat

            Tentang kita dan secangkir kopi sepi
            Walau tanpa manis di dalamnya
            Bukankah ia tetap nikmat?
            Nikmat dalam pahit layaknya kita
            Karena kita, sekedar cerita klasik yang hanya akan menjadi angan



(Solo, 27 Februari 2016)

Cerita Malu

Pena menyayat bercerita tentang sembunyi dirimu
Seperti bunga kuncup yang enggan mekar
Hadirmu mengindah malu segenap hasrat
Biarkan aku menjadi babu segala terlindung dirimu

Bukan fiksi yang tergoreskan cela pada celah
Semua ini telah berwujud, mematung pada gerhana
Jangan kau tuduh ini dusta, karna diri ini tlah nista
Menantimu, aku seperti kacung oleh sekalian budak

Berkaca pada belati, ku hanyut
Tajam dan runcingnya tak pernah ku takut
Melainkan, acuhmulah ajalku
Menggenang baginya kenang bertabir kubur asa

Terus kucangkul yang tak mentak kata mereka
Hanya ingin menoreh atensi daripada mu
Kendati aku hanyalah debu oleh matamu
Tetaplah kau seluruh cakrawala di khatulistiwaku

(Solo, 17 Maret 2016)