Malam, tuntunlah aku dalam heningmu, agar aku bisa berpikir jernih tanpa ada gaduh yang menyaut-nyaut merisaukanku. Malam, tapi jangan tuntun aku dalam kelammu, karena aku sudah buta dengan teka-teki depanku nanti. Malam, tuntunlah aku pada bintang, yang kecil namun cahayanya abadi menemani bumi hingga bumi ini dipanggil. Biarlah aku belajar darinya, hingga aku dapat menerangi semua yang ada disekitarku. Malam, mungkin aku masih seperti bulan, yang sering bersembunyi, enggan memberikan cahayanya. Tapi yakinlah, aku tak sekejam itu sesungguhnya. Aku bersembunyi, enggan menampakkan diri, hanya untuk melihat sepasang mata mata mendelik senyum karena gelapku.
Malam, kau tau, aku takut akan gelapmu. Aku ingin selalu bersembunyi di celah-celah cahaya sempit hanya agar aku merasa aman. Tapi, sayangnya aku tak bisa seperti itu. Aku ingin terus berjalan dalam gelapmu supaya bisa menemukan cahaya utuh yang dapat menyinari seluruh tubuhku, bukan hanya mata atau telinga ini. Terkadang, cahaya yang hanya sampai di mata ini, dibiaskan begitu dalam hingga aku merasa perih, menutup mata, tak sanggup melihat atau bahkan melihat hal yang sebenarnya tidak pernah ada. Terkadang juga, cahaya yang hanya mengenai telinga ini juga membuat panas dan berdenging sehingga aku tak dapat mendengar atau mendengar kata-kata yang sebenarnya tak pernah diucapkan.
Malam, kau tau dunia ini punya dua sisi. Ada sisi gelap, dan ada sisi terang. Dan akupun mengerti, keduanya selalu berjalan beriringan. Jika begitu, lalu mengapa masih ingin menyatukan mereka yang sudah beriringan? atau mengapa masih memaksa ingin menarik salah satu mereka ke sisi yang berlawanan? Bukankah hidup ini indah penuh warna? bukankah zebra indah dengan hitam putihnya? bukankah warna kulit dan rambutmu berbeda? bukankah siang diciptakan dengan sinarnya yang menghangatkan dan malam diciptakan dengan langitnya yang menenangkan? semuanya sudah punya proporsi masing-masing.
Aku ingat ada satu cerita dari guru SMP ku yang masih ku ingat sampai sekarang..
Jadi, ada seorang bapak 50 dengan anaknya yang berumur 13 tahun ingin pergi ke pasar menjual kuda kecil mereka. Pasar sangat jauh dari rumah mereka, jadinya mereka terpaksa berjalan kaki karena tidak ada transport didesa mereka. Mereka berdua berjalan sambil membawa kudanya.
Mereka melewati perkampungan pertama. Disana banyak orang yang memperhatikan mereka sambil berbisik-bisik. Lalu salah satu warga disana berkata "Bodoh sekali kalian! Punya kuda kok gak di naikin aja. Kuda itu kan untuk dinaikin." Mendengar perkataan warga tersebut, akhirnya mereka berduapun menunggangi kuda kecil itu.
Sampailah mereka ke perkapungan kedua. Disana juga banyak orang yang memperhatikan mereka sambil berbisik-bisik. Lalu salah satu warga disana berkata, "Jahat sekali kalian, kuda kecil seperti itu kok dinaikin dua orang. Lebih baik bapaknya aja yang naik, kan sudah tua juga. Mana mampu berjalan jauh." Lalu anak itu menuruni kuda tersebut dan mereka meneruskan perjalanannya.
Tibalah mereka di perkampungan ketiga. Disana juga banyak orang yang memperhatikan mereka sambil berbisik-bisik. Lalu salah satu warga disana berkata, "Jahat sekali anda sebagai bapak. Harusnya anak anda yang menunggangi kuda tersebut, karena dia masih kecil. Bukan malah anda yang naik!" Lalu bapak itu turun, dan anaknya naik di kuda itu.
Ceritanya selesai. Hanya ini kisah yang disampaikan guruku saat itu. Lalu beliau bertanya kepada kami semua tentang makna dari kisah ini. Lalu salah satu temanku menjawab, bahwa makna dari kisah ini ialah, jangan dengarkan perkataan orang lain yang tidak tahu menahu. Kitalah yang mengalami hal tersebut, kita yang bisa mengambil keputusan. Oranglain hanya bisa berpendapat. Dan memang layaknya siang dan malam, suka dan benci itu juga berjalan beriringan. Apapun yang kita lakuin, pasti ada aja yang memuji pun mencela dalam waktu yang bersamaan. So, hidup itu pilihan guys! Niat itu yang terpenting. Buktinya Allah aja bilang, kalo niat kita baik, bakal dapat pahala, Kayak cerita tadi, niat mereka baik, tidak menunggangi kuda itu karena kasihan soalnya kudanya kecil. Tapi, apakah orang lain melihat dari kacamata kuda itu? Jadi, niatkan segala sesuatunya karena Allah, insyaallah semuanya akan baik-baik aja. Kalau niat kita udah kuat, baik, dan benar, jangan takut dan takluk sama pendapat orang yang menurut kita ga sesuai. Kalau kita terus mendengarkan apa kata orang, dan tak mau lagi mendengarkan isi hati kita sendiri, padahal kita sendiri yang ngalamin keadaan itu, sampai kapan mau menjadi bayang-bayang semu dalam diri sendiri? Merdekakan dirimu sendiri barulah kau bisa menjadi cahaya bagi yang lain. Good morning.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar