Senin, 14 September 2015

Waktuku untuk Menyerah

Cinta tak sehebat itu.
Kali ini ia melemahkanku bersamaan dengan keberanianku.

Ia pernah mampir dihatimu silih berganti. 
Tapi ia mendatangiku sekali, menetap, betah, dan lupa jalan kembali.

Namun kali ini ada yang berbeda.
Ia mulai betah menempati ruang hampamu.
Dan aku?
Entah kenapa aku harus membukakan pintu keluar untuknya.
Bukan.. bukan karena ia merusak ruangku.
Pun juga bukan karena aku ingin mencari penghuni baru.

Aku hanya berpikir, ini waktunya.
Aku pun tak tau kenapa harus sekarang.
Disaat senyuman kita saling merekah, disaat kehangatan membenam diantara senja yang tak pernah ingin kulewatkan.

Itulah cinta.
Ia membingungkan dan tak pernah punya logika.
Kadang perasaanpun tak mampu menerka semua teka tekinya.

Ku harap kau mengerti dengan semua ketidakmengertianku yang harusnya ku mengerti.

(Solo, 2015)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar