Kau tersenyum memapankan senja
Putihmu, putih dari segala hitam yang ia tahu,
Lebih suci dari polesan monokrom mata saling cinta
Ia tersenyum dalam guratan waspada
Menilik-nilik dari apa yang matanya tangkap
Tak ingin berharap, namun mengaminkan mimpi
Tak ingin memulai, namun menunggu akhir
*
Jinggamu kini telah kokoh dipelupuknya
Analog memori sedupun sudah jarang berkunjung
Jemarimu mulai menabrakkan diri padanya, enggan berdamai
Membuat ia mulai candu menata selisih denganmu
Sinar dari kelamnya mulai berpijar
Pada sekalian tinta yang kau lukis indah
Dengan raut basah nan manja di bibir mungilnya
Kau bangun mahkota di rumah baginya
*
Tak ada perayaan, tak ada tujuan
Gandenganmu pilar yang tak terjamah
Dia tak lebih dari sekedar cukup
Sedang kau muara yang tak tertampung
Dia takut dalam harapnya
Dia ragu dalam jalannya
Tak pernah kepercayaan memberontaknya lebih keras
Dia ingin berhenti berkhayal
Sekali lagi...
Seperti waktu dulu
Waktu ia mulai percaya tanpa takut
Waktu badai mengokohkan mimpinya
Waktu ufuk selalu di perdaduannya
Tapi kemudian ia mati binasa dalam kolong keramaian
Hanya waktu api melirik dingin dan sepi
Sekali lagi...
Ia ingin berhenti pada mimpi..
Sebelum ia tak sanggup dipadamkan asa
Dia tak lebih dari sekedar cukup
Sedang kau muara yang tak tertampung
Dia takut dalam harapnya
Dia ragu dalam jalannya
Tak pernah kepercayaan memberontaknya lebih keras
Dia ingin berhenti berkhayal
Sekali lagi...
Seperti waktu dulu
Waktu ia mulai percaya tanpa takut
Waktu badai mengokohkan mimpinya
Waktu ufuk selalu di perdaduannya
Tapi kemudian ia mati binasa dalam kolong keramaian
Hanya waktu api melirik dingin dan sepi
Sekali lagi...
Ia ingin berhenti pada mimpi..
Sebelum ia tak sanggup dipadamkan asa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar